9 Tahunan Jadi Hakim Agung, Mansyur Adili 12 Ribuan Perkara

Author - July 24, 2012

9 Tahunan Jadi Hakim Agung, Mansyur Adili 12 Ribuan Perkara, Jakarta, Senyum terus mengembang. Sebab sebagai hakim agung Mansyur Kertayasa yang secara resmi memasuki pensiun akhir Juli 2012 tidak meningalkan tunggakan perkara yang menjadi tugasnya. Kurun waktu tersebut dia sangat terkesan menjadi hakim agung di puncak lembaga tertinggi peradilan Indonesia ini.

“Duplikasi penghitungan perkara kasasi dan Peninjauan Kembali (PK) yang sudah saya selesaikan selama menjabat sbg Hakim Agung yaitu 9 tahun 1 bulan adalah sebanyak 12.894 perkara. Ini belum termasuk perkara Grasi,” kata Mansyur saat berbincang dengan detikcom di ruang kerjanya di gedung Mahkamah Agung (MA), Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (23/7/2012).

Secara de facto, ‘wakil Tuhan’ ini sudah tidak mengadili perkara per 6 Juli lalu karena keesokannya tepat memasuki usia ke 70 tahun. Tapi secara administratif baru menyelesaikan tugas pada akhir bulan ini.

“Sekarang saya tidak memiliki tunggakan apapun, 0 perkara, per 6 Juli. Saya diangkat sebagai hakim agung pada pada18 juni 2003 sampai 6 Juli kemarin. Kini tinggal engkoreksi putusan yang disebut minutasi dan menadatangani putusan yang sudah dibuat,” beber hakim agung penyandang gelar doktor hukum ini.

Selama 9 tahun 1 bulan menjadi penjaga gawang keadilan ini, dia tidak membeda-bedakan perkara. Seorang koleganya yang tidak mau disebut namanya menyatakan jika Mansyur termasuk hakim agung yang menjaga konsistensi dalam memutus, tidak pernah membuat putusan yang kontroversial bagi masyarakat.

“Kita mengetahui MA memeriksa dalam 2 jenis perkara yaitu kasasi dan PK. Memang mengingat tunggakan perkara yang masuk MA jumlahnya sangat banyak sekali maka disamping ketepatan juga kecepatan tanpa mengurangi aspek akurasi. Dalam perkara kasasi yg berasal dari banding, kita melihat putusan bandingnya, menguatkan atau merubah. Kalau menguatkan kita tinggal melihat amarnya, lalu kita melihat putusan PN nya, bagaimana pertimbangannya. Sehingga disambing akurasi juga kecepatan, kita tidak perlu melihat berkas begitu tebal,” ujar Mansyur membagikan tipnya.

Dalam memutus, dia tidak bekerja sendirian tetapi bersama majelis hakim lainnya. Dia akui beberapa kasus terjadi perbedaan pendapat antara anggota majelis sehingga terjadi perdebatan yang hangat, namun masih dalam koridor musyawarah.

“Sebelum dibawa ke musyawarah pengucapan, pendapat masing-masing hakim sudah ditulis dalam dokumen dalam amplop tertutup dan baru dibuka di depan sidang. Sehingga tidak bisa (main mata sesama hakim). Kita tidak tahu bagaimana pendapat hakim di luar kita, kecuali hakim ketua. Dokumen itu dibukanya dibuka saat sidang, di depan musyawarah dan menjadi keputusan majelis,” ungkap Mansyur.

Ketika ada yang berbeda pendapat, maka diusahakan penyelesain secara musyawarah sehingga disampaikan perdebatan itu sehingga ada titik temu, disampaikan argumentasinya. Dalam hal ini juga ada demokrasi, ada musyawarah, jika tidak menemui titik temu maka diberikan dissenting oppinion yang dimasukkan dalam putusan. Agak sedikit hangat perdebatannya.

9 Tahunan Jadi Hakim Agung, Mansyur Adili 12 Ribuan Perkara

Comments are closed.