Al-Qaeda Jadikan Abyan Sebagai Negara Baru

Author - April 1, 2011

Al-Qaeda Jadikan Abyan Sebagai Negara BaruBerita Terbaru, Disaat kondisi Sana’a mulai memanas, pasukan Yaman dikerahkan secara menyeluruh untuk dipusatkan meredam kerusuhan yang sedang terjadi. Karena terlalu fokus pada satu masalah tersebut, akhirnya kelompok militan Islam garis keras yang tergabung dalam sebuah kelompok bernama Al-Qaeda, dengan mudahnya telah merebut dan menguasai provinsi Abyan di Yaman dan menjadikannya sebuah negara baru. Beberapa kota di Abyan telah berhasil dikuasai oleh pasukan Al-Qaeda. Daerah yang terletak di selatan Yaman ini memang sejak dulu dikenal sebagai markas al-Qaeda di Semenanjung Arab.

Daerah ini berhasil dikuasai kelompok militan setelah pasukan militer dan pasukan anti terorisme Yaman dipindahtugaskan sementara ke daerah sekitar ibukota Sana’a untuk mengamankan demonstrasi massa. Di Sana’a pasukan berjibaku dengan para demonstran yang menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh turun dari posisinya. Pada situs internetnya, al-Qaeda mengklaim Abyan sebagai sebuah negara di bawah kepemimpinan mereka. Kelompok militan ini kemudian mengganti nama provinsi Abyan sebagai negara “Emirat Islam Abyan.”

Menurut laporan pemerintah Saleh, dikuasanya Abyan oleh al-Qaeda didahului oleh dikuasainya kota Jaar, yang merupakan kota tempat pabrik senjata Yaman. Dilaporkan, pasukan militan pada Selasa lalu menyerbu dan menjarah pabrik senjata, 78 orang tewas. Pasukan militan dengan persenjataan baru, kemudian menyerbu wilayah yang kosong dari pengamanan. “Persenjataan al-Qaeda tidak cukup untuk mengambil alih kota ini jika berhadapan langsung dengan pasukan keamanan Yaman. Namun tanpa adanya pengamanan, al-Qaeda akan diuntungkan,” ujar pengamat politik Yaman, Abdul Ghanis al-Iryani.

Diambil alihnya provinsi Abyan oleh al-Qaeda sesuai dengan janji dari Anwar al-Awlaki yang merupakan pemimpin kelompok ini. Sebelumnya di sebuah majalan online al-Qaeda, ulama garis keras kelahiran Amerika Serikat ini mengatakan bahwa kelompoknya akan mengambil keuntungan dari momen pergolakan di Timur Tengah. Awlaki mengatakan bahwa pemerintahan yang baru di berbagai negara Arab, diantaranya Mesir, Tunisia, dan Libya, akan sulit untuk menyamai reputasi pemerintahan sekuler sebelumnya dalam menandingi kekuatan mereka.

“Bahkan jika pemerintah selanjutnya ingin melanjutkan dukungan terhadap Barat dan Israel, mereka tidak akan mempunyai kekuatan dan pengaruh seperti pemerintahan sebelumnya yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade,” ujar Awlaki. “Saudara-saudara mujahidin kami di Tunisia, Mesir, Libya, akan mendapatkan kesempatan untuk bernafas lega setelah tiga dekade terkekang,” lanjutnya.

Comments are closed.