Carolina, Sang “Duta” Pertama Atletik Putri Indonesia

Author - July 21, 2012

Carolina, Sang “Duta” Pertama Atletik Putri Indonesia, Carolina ”Nina” Rieuwpassa (63) adalah sprinter putri pertama yang mewakili Indonesia di pesta olahraga dunia, olimpiade. Dia tampil di Olimpiade 1972 Muenchen, Jerman Barat, dan Olimpiade 1976 di Montreal, Kanada.

Jalan ke olimpiade itu terbuka setelah Nina mempersembahkan dua medali perunggu bagi kontingen Merah Putih pada Asian Games 1970 di Bangkok, Thailand. Nina menjadi juara ketiga pada nomor lari 100 dan 200 meter.

Nina tidak pernah menyangka dapat tampil di olimpiade.

”Awalnya semua bagaikan mimpi. Namun, dengan kerja keras dan disiplin, impian dapat menjadi kenyataan,” ujar Nina saat ditemui di rumahnya di Jalan Patiro Sompe, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (15/7).

Sukses merebut medali perunggu Asian Games 1970 membuka kesempatan Nina unjuk gigi di jenjang lebih tinggi. Federasi Atletik Jerman Barat mengundang Nina dan Tonny Jogyohartono mewakili Indonesia berlatih bersama atlet lain dari 14 negara di Asia.

Selama empat bulan mereka berlatih di Koln. Di sana, Nina mengukir prestasi sebagai sprinter putri terbaik Asia. Dia mengukir rekor nasional 11,7 detik untuk nomor lari 100 meter putri dan 24,2 detik untuk lari 200 meter putri.

Secara keseluruhan, catatan waktu Nina hanya kalah dari sprinter Israel, Ester Shakhamurow.

Akan tetapi, Nina mengungguli sejumlah sprinter tenar Asia, seperti Isabel Cruz (Filipina), Kahanda Badra (Sri Lanka), dan Wu Fu Shan (China).

Putri pasangan Marcus dan Mien Rieuwpassa, saat Olimpiade 1972, terlambat bergabung dengan tim karena harus mengikuti kejuaraan di Stuttgart. Dia pun tampil di olimpiade tanpa didampingi pelatih. Alhasil, dia harus mengurus sendiri segala hal, mulai dari kartu identitas hingga menempel nomor peserta di kaus lomba.

Nina mengisahkan, persiapan kala itu menjadi semakin berat karena penjagaan aparat keamanan sangat ketat sebagai dampak peristiwa Black September (penyanderaan sejumlah atlet Israel oleh gerilyawan Palestina pada 5 September 1972). Apalagi, asrama atlet Israel berdekatan dengan asrama atlet Indonesia.

Namun, suasana mencekam itu tidak menyurutkan niat Nina, yang kala itu berusia 23 tahun, tampil sebaik mungkin. Nina sukses melangkah hingga babak kedua, baik di nomor lari 100 meter maupun lari 200 meter.

Pada nomor lari 100 meter, menurut arsip olimpiade, Nina mencetak waktu terbaik 12,23 detik, sedangkan pada nomor lari 200 meter waktu terbaiknya 24,68 detik. Prestasi itu sangat membanggakan mengingat Nina harus bersaing dengan sprinter terbaik dunia asal Jerman Timur, Inge Helten.

Pada 40 meter pertama, saya masih mampu mengimbangi kecepatan lari lawan. Namun, dia akhirnya tertinggal karena kalah jangkauan langkah kaki.

Carolina, Sang "Duta" Pertama Atletik Putri Indonesia

Comments are closed.