Deschamps dan Emosi Tim “Ayam Jantan”

Author - July 10, 2012

Deschamps dan Emosi Tim “Ayam Jantan”, Pemain tim nasional Perancis melalui babak kualifikasi Piala Eropa 2012 dengan tenang. Tak ada riak-riak. Ditangani Laurent Blanc, hasilnya lumayan. Keraguan banyak orang tertepis.

Namun, memasuki kompetisi sebenarnya, ikatan yang telah terbina di bawah asuhan ”Sang Presiden”, julukan bagi Blanc, mulai goyah. Satu per satu anak muda penggawa tim berjulukan ”Ayam Jantan” itu menampilkan sosoknya yang emosional. Samir Nasri, Jeremy Menez, Yan M’Vila, dan Hatem Ben Arfa, empat penggawa muda ”Les Bleus”, berulah.

Mulai dari menyalahkan rekan satu tim hingga menghina wartawan dan menantang berkelahi adalah emosi yang dipertontonkan keempatnya selama putaran final Piala Eropa. Nasri, yang diprediksi menjadi bintang muda gelaran itu, malah meredup karena tak bisa menahan emosi. Kini, keempatnya menunggu sanksi FFF, federasi sepak bola Perancis.

Blanc, yang kontraknya baru tuntas setelah Piala Dunia Brasil 2014, tak kuasa bertahan di kursi panas tim Ayam Jantan. Dia memutuskan turun takhta. Minggu (8/7), setelah hampir sepekan negosiasi, FFF menunjuk rekan satu tim Blanc di tim Perancis era 1990-an, Didier Deschamps, menggantikan ”Sang Presiden”.

Menekan ego

Sama seperti pendahulunya, pergantian pelatih diwarnai keributan internal tim. Kini, Deschamps pun berada dalam situasi yang lebih kurang sama, ketakharmonisan internal.

Mantan pemain Juventus dan Chelsea ini pernah berkata: ”Pekerjaan menangani klub atau tim adalah pekerjaan yang penuh dengan tekanan. Membuat frustrasi!”

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Memasuki tahun ketiga sebagai pelatih klub Perancis, AS Monaco, Deschamps memberikan gelar juara Liga Perancis (Ligue 1) dan tahun berikutnya mampu menembus babak final Liga Champions.

Tangan dingin Deschamps setidaknya juga terbukti kala ia menangani klub ”Si Nyonya Besar” Juventus di Italia. Tahun 2006, saat klub itu baru saja turun divisi ke Liga Serie B karena sanksi pengaturan pertandingan, Deschamps hadir untuk melatih klub dengan kostum hitam-putih itu.

Perlahan tetapi pasti, dengan pendekatan personal, beberapa pemain senior dapat dibujuk untuk tetap tinggal dan bersama-sama mengangkat kembali marwah klub itu. Musim berikutnya, berkat polesan Deschamps, Juve kembali berlaga di Liga Serie A Italia.

Setelah membawa Juve kembali ke Serie A, giliran klub Perancis, Olympique Marseille, mendapat sentuhan emasnya. Musim pertama dilatih Deschamps, 2009-2010, klub ini menjadi kampiun Ligue 1 dan runner-up liga musim selanjutnya.

Sentuhan personalnya dibutuhkan penggawa muda tim Ayam Jantan. Pertunjukan kemampuan individu, seperti yang berlangsung selama gelaran Piala Eropa 2012, menjadi perhatian khusus Deschamps. Kemampuan individu Nasri, M’Vila, Ben Arfa, hingga Franck Ribery memang tak diragukan lagi. Namun, menjadi tugas Deschamps membuat Ayam Jantan menjadi sebuah tim yang solid dan bertaji.

Deschamps dan Emosi Tim "Ayam Jantan"

Comments are closed.