Dikejar Utang, BUMI Tarik Aset dan Piutang

Author - June 18, 2012

Dikejar Utang, BUMI Tarik Aset dan Piutang, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali melontarkan niatnya menarik piutang dan mencairkan investasi di beberapa tempat, pada kuartal III-2012 nanti. BUMI juga akan melepas kepemilikannya di PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Dana itu akan digunakan BUMI untuk mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) senilai 600 juta dollar AS pada Oktober 2012. “Kami akan dapatkan dana itu sebelum Oktober 2012,” kata Dileep Srivatava, Direktur BUMI, pekan lalu.

BUMI masih memiliki piutang di PT Bukit Mutiara senilai 260 juta dollar AS. Sedangkan investasi di Recapital Asset Management nilainya sebesar 350 juta dollar AS.

Sejatinya, penarikan piutang dan monetisasi investasi itu sudah mundur dari target semula. Awalnya, manajemen menargetkan bisa menarik piutang di Bukit Mutiara sebesar 130 juta dollar AS di kuartal I-2012. Adapun sisanya diharapkan bisa diperoleh pada semester I-2013 nanti. Sedangkan dana hasil investasi di Recapital yang hendak ditarik nilainya 30 juta dollar AS.

Dileep beralasan, molornya jadwal penarikan piutang dan pencairan investasi dari jadwal, semata karena faktor kebutuhan. “Kami sesuaikan dengan kebutuhan dana kami,” kata dia.

Upaya lain pemenuhan kebutuhan dana pembayaran utang adalah dengan menjual kepemilikan saham di BRMS.

Dileep membeberkan, saat ini BUMI masih melangsungkan dialog dengan para calon investor penadah saham BRMS yang bakal mereka lepas. Siapa calon investor berikut potensi nilai pelepasan saham BRMS, Dileep enggan mengungkapkan.

Sumber KONTAN membisikkan, BUMI berencana menjual kepemilikannya di BRMS sebesar 20 persen pada kuartal III-2012. Beberapa calon investor telah menyatakan minatnya, di antaranya dari China dan Eropa. Nilai penjualan 20 persen saham BRMS ini ditaksir mencapai 400 juta dollar AS – 500 juta dollar AS. Namun, Dileep belum mau memberikan konfirmasi terkait informasi ini.

BUMI memang kerap menekankan tentang prioritasnya menyelesaikan utang pada CIC. Maklumlah, nilai utangnya sangat besar. Selain itu, beban bunganya juga tinggi.

Total nilai utang yang ditarik pada 18 September 2009 itu mencapai 1,9 miliar dollar AS. Adapun bunga tingkat pengembalian alias internal rate of return (IRR) secara keseluruhan dari pinjaman tersebut mencapai 19 persen.

Fasilitas utang terbagi dalam tiga ikatan (commitment). Commitment A senilai 600 juta dollar AS, akan jatuh tempo empat tahun sejak penarikan. Utang ini telah dibayar di semester II-2011 dengan pinjaman sindikasi.

Lalu, commitment B senilai 600 juta dollar AS yang sejatinya jatuh tempo pada tahun 2013. BUMI berupaya menyelesaikannya pada Oktober 2012 nanti.

Jika rencana ini terwujud, maka utang tersisa nanti tinggal 700 juta dollar AS. Commitment C ini memiliki masa jatuh tempo enam tahun sejak penarikan utang. Manajemen berharap bisa menyelesaikan sisa pinjaman ini pada kuartal IV 2013.

Utang jumbo itu diberikan CIC dengan syarat penjaminan. Salah satu jaminan adalah saham milik anak usaha BUMI yakni PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, IndoCoal Resources (Cayman) Ltd., PT IndoCoal Kalsel Resources, PT IndoCoal Kaltim Resources dan the Original Subsidiary Guarantors.

Janson Nasrial, Analis AM Capital, menilai, percepatan pembayaran utang memang bisa mengurangi beban keuangan BUMI nan tinggi. Tapi yang terpenting adalah eksekusinya. Kalau hanya sounding-sounding saja percuma.

Selama sifatnya hanya rencana, analis menilai BUMI belum layak dibeli. “Rekomendasi saya sell untuk BUMI,” kata dia.

Perkiraan Janson, harga BUMI akan stagnan di kisaran Rp 1.000 per saham. Penutupan Jumat (15/6/2012), BUMI sempat amblas hingga Rp 970 sebelum berakhir di Rp 1.080 per saham.

Dikejar Utang, BUMI Tarik Aset dan Piutang

Comments are closed.