Gothia Cup, Sebuah Titik Balik

Author - July 12, 2012

Gothia Cup, Sebuah Titik Balik, Setiap kali Liga Kompas-Gramedia mengirimkan tim untuk berlaga di Gothia Cup, ada semacam perasaan haru yang menjalar di hati kalangan pengurus. Perasaan itu barangkali disebabkan oleh begitu bersemangatnya pemain mempersiapkan diri menghadapi festival sepak bola tahunan yang berlangsung di Gothenburg, Swedia, tersebut. Pada setiap gerak dan bahasa tubuh anak-anak yang terpilih dari seleksi ketat tersebut, seakan-akan mereka telah menggapai mimpi masa kecil. Mimpi besar sebagai pemain sepak bola yang membela negaranya di ajang internasional.

Tentu mereka pergi ke Gothenburg bukan sebagai pemain tim nasional (timnas) Indonesia, walaupun selalu diingatkan mereka tetap mewakili ”Indonesia”. Meskipun bukan berstatus pemain timnas, mereka tetap pemain yang dipilih melalui mekanisme kompetisi, sebuah sistem yang tidak pernah dipakai bahkan oleh PSSI sekalipun dalam menyeleksi pemain untuk timnas yunior.

Sebagai pemain yang dipilih dari sebuah sistem kompetisi yang ketat, tim binaan Liga Kompas-Gramedia yang pergi ke Gothia Cup 2012 dengan nama ”Kabomania-SKF Indonesia” tersebut sejatinya berkualitas setara, bahkan dalam beberapa segi lebih baik ketimbang timnas pilihan PSSI. Klaim ini pasti tidak berlebihan sebab siapa yang akan menyangkal bahwa kompetisi adalah sarana terbaik untuk mencari bibit-bibit pemain sepak bola.

Klaim ini juga mendapatkan pembenaran. Dari 18 pemain tim Kabomania-SKF Indonesia, sebagian juga terpilih menjadi pemain timnas pada ajang Sister City di Tokyo, Jepang, beberapa waktu lalu. Bahkan, sebagian besar dari mereka juga anggota timnas U-14 kala menjadi tim terbaik dalam turnamen Kinabalu, Juni lalu. Artinya, meski tidak resmi sebagai pemain timnas ke Gothia Cup, sejatinya Dody Alfayed dan kawan-kawan sudah berpengalaman sebagai pemain timnas.

Namun, pada akhirnya, isu timnas atau bukan menjadi tidak penting sepanjang semua usaha ditujukan untuk nama baik Indonesia di kancah internasional. Apalagi, pada festival tahunan seperti Gothia Cup, Dody cs akan bergabung dengan sekitar 1.600 tim lain dari 70 negara lebih.

Lebih dari sebuah turnamen atau festival, Gothia Cup sesungguhnya merupakan pesta sepak bola anak-anak yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Digelar ajek sejak 1975, Gothia Cup memberikan pelajaran berharga kepada pesertanya, anak-anak dan remaja usia 11-19 tahun.

Di festival ini, setiap anak yang terlibat diajarkan kemandirian dan bersosialisasi dengan sahabat dari seluruh dunia. Sejak mereka mendarat di Bandara Landvetter, anak-anak harus bertanggung jawab untuk segala keperluannya, terutama barang-barang pribadi. Mereka akan menginap di gedung sekolah dan menggelar kasur lipat masing-masing di ruang kelas. Anak-anak juga harus mempersiapkan sendiri semua keperluan bertanding, merencanakan perjalanan ke tempat pertandingan dengan bus atau trem. Panitia Gothia Cup hanya memberikan semua informasi mengenai jalur bus dan trem serta rute yang harus ditempuh.

Dalam kehidupan sosial, anak-anak peserta Gothia Cup juga akan bertemu, terutama di kantin dan kamar mandi umum, dengan teman-temannya dari berbagai bangsa. Sesuai dengan moto Gothia Cup, yakni ”Meet the World”, anak-anak dari berbagai bangsa akan membaur dalam berbagai kesempatan di luar lapangan pertandingan. Halaman sekolah tempat mereka menginap adalah lahan paling ideal untuk mewujudkan ide ”Meet the World” sebab mereka sering kali berbagi pengalaman dan saling unjuk kekayaan budaya. Ada yang menari, ada yang menyanyi dan meneriakkan yel-yel khas.

Persentuhan budaya secara spontan juga terjadi di semua sudut kota Gothenburg yang asri. Inilah yang kemudian yang menjadikan Gothia Cup bukan sekadar festival sepak bola, melainkan juga pertemuan budaya dari hampir semua bangsa dunia.

Bagi tim-tim asal Indonesia, terutama Dody Alfayed dan kawan-kawan, Gothia Cup jelas sebuah pengalaman yang bisa jadi menjadi titik balik dalam sejarah perjalanan karier mereka di dunia bola. Dengan bertemu tim-tim asal negara lain, terutama Eropa dan Amerika Latin, mereka akan punya kepercayaan diri luar biasa untuk bisa menjadi, paling tidak, salah satu yang terbaik di Asia.

Belajar dari tim terdahulu yang dikirim Liga Kompas-Gramedia, Deta Husa Prasta dan kawan- kawan sanggup melewati hadangan tim-tim dari Eropa, Swedia, dan Jerman. Dengan postur tubuh yang relatif lebih kecil, Deta dan kawan-kawan bahkan mengatasi lawan-lawan Eropa-nya dengan margin gol yang sangat besar.

Pengalaman tahun lalu juga mengajarkan kepada para pembina sepak bola Indonesia, pada level yunior, sepak bola Indonesia ternyata bisa lebih baik ketimbang negara-negara Eropa.

Tahun ini pun, tiga tim Eropa, dua dari Swedia dan satu dari Finlandia, menghadang Dody Alfayed cs di babak penyisihan grup, kelompok Boys 14. Seperti pesan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Dody dan kawan-kawan diminta percaya diri. ”Jalanlah dengan kepala tegak. Tatap mata lawan kalian,” ujarnya. Menpora bahkan yakin, tim Kabomania-SKF Indonesia kali ini akan lebih percaya diri setelah menimba pengalaman dari Deta dan kawan-kawan.

Pada intinya, Gothia Cup pasti bukan akhir dari perjalanan Dody dan kawan-kawan yang terlibat di kompetisi Liga Kompas-Gramedia U-14. Kompetisi dan Gothia Cup justru awal dari perjalanan panjang menuju mimpi sesungguhnya, pemain timnas Indonesia di level senior.

Dari laga kompetisi yang reguler dimainkan tiap hari Minggu, ikut berbagai turnamen dan festival, bakat-bakat muda sepak bola Indonesia menempa diri untuk menjadi atlet sesungguhnya, bahkan manusia Indonesia yang komplet. Hanya dengan kesungguhan dan disiplin tinggi semua mimpi itu akan terwujud.

Gothia Cup, Sebuah Titik Balik

Comments are closed.