Goyang Poco-Poco Diharamkan di Malaysia

Author - April 3, 2011

Goyang Poco-Poco Diharamkan di MalaysiaBerita Terbaru, Semua warga Indonesia pastinya mengenal dengan salah satu tarian yang selalu dibawakan oleh polisi. Gerakan dengan mengayunkan kaki dan menggoyangkan badan ini dikenal dengan sebutan goyang poco-poco. Tarian tersebut memang sudah menjadi ciri khas tersendiri. Namun, hanya karena tarian tersebut kabarnya warga Malaysia terpecah menjadi dua kelompok. Ada yang sepakat dengan putusan Jawatan kuasa Fatwa Negeri Perak yang mengharamkannya. Sementara, kelompok lain garang menentang.

Menurut mufti (ulama) Perak, Tan Sri Harussani Zakaria, ada dua hal yang jadi alasan pelarangan tarian impor dari Indonesia itu. Pertama, Poco-poco mirip tarian pemujaan roh di Jamaika. Juga, gerakannya yang ke depan-kiri-kanan-belakang dianggap mengandung elemen Kristiani, membentuk salib.

Bagaimana sikap Majelis Ulama Indonesia menanggapi pendapat ulama negeri jiran? Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh berpendapat, tak bisa sebuah hukum dikeluarkan tanpa melihat konteksnya. “Konteksnya seperti apa? Kalau konteks Poco-poco misalnya, jadi sarana yang menyebabkan eksploitasi aurat, menyebabkan maksiat, itu haram,” kata dia.

Namun, sebaliknya, “jika Poco-poco untuk olahraga, olah fisik yang tidak bertentangan dengan syariat, boleh saja,” tambah dia. Pada Prinsipnya, tambah Niam, Poco-poco hukumnya mubah, harus dilihat konteksnya. “Harus dilihat secara komperehensif.”

Sementara, salah satu Ketua MUI, Chalil Ridwan, berpendapat secara pribadi, suatu kegiatan yang menyerupai ritual agama lain diharamkan. “Misalnya Majusi menyembah api, umat Islam melakukan aktivitas pemujaan api, itu hukumnya haram. Kemudian, salat di dalam masjid, lalu diiringi musik, gitar, piano, seperti–maaf–umat Kristen di gereja, itu tidak boleh.”

Untuk diketahui, Poco-poco mulai dikenal di Malaysia tahun 2001 lalu. Poco-poco ditarikan secara meluas di Malaysia oleh semua kalangan, termasuk polisi, tentara, guru, siswa, selebriti, bahkan tokoh politik. Maka tak heran jika polemik haram-halal Poco-poco ditanggapi sejumlah tokoh politik.

Ketua Pemuda Barisan Nasional, Khairy Jamaluddin, misalnya. Ia mempertanyakan pelarangan itu. “Jika dilakukan untuk olahraga, tanpa tujuan tertentu, apa salahnya?” dia mempertanyakan. Khairy yakin warga Malaysia tak menganggap tarian itu mengandung elemen Kristen atau ritual pemujaan roh.

Sementara, anggota biro politik pusat PAS, Khalid Samad mendeskripsikan putusan Poco-poco haram “konyol” dan “sama sekali tak bisa diterima”. “Orang melakukan Poco-poco hanya untuk olahraga, tak ada urusan keyakinan di dalamnya,” kata dia seperti dimuat The Star.

Comments are closed.