Hadi Subiyanto

Hadi Subiyanto. Berita terbaru, Lelaki berambut putih itu nyaris luput dari perhatian di tengah keriuhan acara gala premiere film ‘Eat Pray Love’ di Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Tak banyak yang ‘ngeh’ bahwa dia adalah Hadi Subiyanto, pemeran Ketut Liyer dalam film karya sutradara Ryan Murphy yang diangkat dari buku laris karya Elizabeth Gilbert itu.
Hadi Subiyanto
Mengenakan batik Madura warna merah, Hadi tampak tenang dan bersahaja. Usai pemutaran film, dia berdiri di dekat standing banner poster film tersebut dan mulai menerima satu-dua permintaan foto bareng. Seorang wartawan salah satu infotainment muncul, menyodorkan mikropon dan mewawancarainya. Hadi menjawab setiap pertanyaan dengan tertawa-tawa.

“Ndak pernah menyangka, bermimpi pun tidak,” kata Hadi tentang keterlibatannya di film tersebut. Ia lebih ‘muda’ dibanding yang tampak di layar. Tokoh yang diperankannya adalah seorang dukun ramal yang konon berusia lebih dari 100 tahun. Hadi sendiri adalah tipe khas orang Jawa generasi lama yang bahkan tanggal kelahirannya pun tidak tahu. “Kata orangtua saya sih umur saya sekarang 68, saya juga tidak tahu,” kata dia polos. Siapa Hadi sebenarnya? Bagaimana ia bisa mendapatkan peran penting dalam sebuah film produksi Hollywood?

Dunia seni memang sudah menjadi pijakan Hadi selama ini. Namun, akting merupakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Dia adalah seorang pemain musik, dan memimpin grup bernama Gema Palapa yang memainkan musik tradisional Madura. Proses terpilihnya Hadi sebagai salah pemeran Ketut Liyer berawal dari kebetulan. Kala itu, grup musik Hadi sedang pentas di Hotel Dharmawangsa, Jakarta.

Tim film ‘Eat Pray Love’ yang juga menginap di situ melihat Hadi yang memainkan seruling. “Mereka bertanya pada orang hotelnya. Eh, lelaki yang giginya ompong itu bisa Bahasa Inggris nggak?” kenang Hadi, lalu tertawa sendiri. Hadi mengaku, awalnya menolak tawaran itu. Namun, ketika dibilang bahwa ia akan dites dulu, Hadi pun bersedia.

Merasa tidak memiliki pengalaman sama sekali di bidang seni peran, justru membuat Hadi sangat berhati-hati. Dia menghafal semua dialog yang melibatkan dirinya. Dan, selama proses syuting, Hadi banyak melakukan improvisasi, misalnya, tiba-tiba dia menepuk-nepuk kedua pipi Julia Roberts. “Itu ndak ada di skrip, saya spontan aja,” ujar lelaki yang tinggal di Lubang Buaya, Jakarta Timur itu seraya tertawa.

Bahkan, suatu kali, dia menghentikan syuting karena tahu bahwa dialog yang diucapkan Julia Roberts salah. Di layar, Hadi tampil ringan tanpa beban, natural, dengan bahasa Inggris yang medok. Dia mencuri perhatian pada setiap adegan yang ada dirinya, dan memberikan sentuhan humor yang segar pada film itu. Hadi tampil dalam porsi yang jauh lebih banyak dibandingkan Christine Hakim yang total hanya muncul sekitar 5 menit.

Ditanya perasaannya ketika menyaksikan debut aktingnya di layar lebar, Hadi pun tertawa geli sendiri. “Kok bisa begitu ya?” gumamnya.

Comments are closed.