Hamza, Korban Kekerasan Yang Jadi Simbol Pemberontakan

Author - June 1, 2011

Hamza, Korban Kekerasan Yang Jadi Simbol PemberontakanBerita Terbaru, Tindakan para tentara Suriah terhadap para demonstran yang mencoba untuk menggulingkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad memang sangat kejam. Siapa saja yang mencoba memberontak, mereka tak segan-segan untuk langsung membunuhnya. Bahkan, seorang anak yang masih berusia belasan tahun pun ikut menjadi korban kekerasan mereka. Dia adalah Hamza Ali al-Khateeb (13), yang tewas sebagai martir. Ia tewas dengan cara yang mengenaskan. Peluru menembus badannya, lehernya patah, lututnya lepas dan alat vitalnya dimutilasi.

Kini, wujudnya abadi dalam sebuah foto dengan raut wajah yang lembut tanpa dosa. Tanda-tanda kekerasan tidak bisa disembunyikan dari tubuhnya, meskipun telah dimandikan. Hamza menjadi korban termuda penindasan kejam tentara Suriah. Keluarganya nampak sangat kehilangan putra kesayangannya itu. Sampai saat ini, pihak keluarga belum mau berkomentar soal nasib tragisnya. Namun, mereka telah menyebarkan rekaman mayat Hamza di situs YouTube, lengkap dengan keterangan detil luka-luka mengerikan di sekujur tubuhnya. Karena tidak ingin citra tentara Suriah buruk di mata dunia, ayah Hamza yang juga sebagai pengunggah video anaknya itu, kini telah ditahan oleh aparat sejak Minggu lalu. Bahkan, pihak keluarga tidak tahu dimana ayah Hamza ditahan.

Dalam video yang diunggah ke situs video terbesar di dunia maya itu, tampak dua peluru telah menembus dua lengan Hamza sampai dada. “Lihat bukti-bukti kekejaman ini dan lihat memar di wajahnya”, ujar narator video itu. Sebelumnya, Hamza telah ditangkap aparat dalam sebuah aksi protes di Jiza, sebuah desa di provinsi Dar’a di Suriah yang seluruh masyarakatnya memberontak terhadap presidennya. Selama berbulan-bulan, keluarganya menunggu Hamza pulang. Kecemasan pun tidak dapat disembunyikan dari raut wajah ibu dan ayahnya akan nasib yang terjadi pada anaknya itu.

Ibu dan Ayahnya akhirnya menemukan Hamza, namun sayangnya ia kembali tanpa nyawa. Keluarganya makin miris setelah melihat tubuhnya yang rusak akibat kekejaman tentara Suriah. Di tengah luka-luka sundutan rokok, terlihat juga dua luka lembakan yang menembus dada. Belum pasti, apa yang telah membuat nyawa Hamza melayang. Tak hanya keluarganya yang berduka, masyarakat pun terluka. Tak heran, jika kemudian bocah ini menjadi simbol kuat pemberontakan di Suriah.

Ribuan pengunjuk rasa yang turun ke jalan Kota Damaskus yang sebelumnya dilumuri darah, meneriakkan namanya. Sementara, anak-anak di Aleppo memanjat atap-atap rumah untuk merayakan ‘Hari Hamza’. Tak hanya itu, di Kota Hama, 116 mil dari ibu kota, kerumunan besar demonstran memadati alun-alun utama kota, membawa foto Hamza. Video kematian Hamza yang menyebar di internet dan kemudian disiarkan di stasiun televisi, Al Jazeera — membuat kemarahan rakyat Suriah makin bergolak.

Di laman jejaring sosial, muncul grup ‘We are all Hamza Ali al-Khateeb, the Child Martyr’ atau ‘Kami Semua adalah Hamza Ali al-Khateeb, Bocah yang Menjadi Martir’. Grup ini sudah menjaring 58.000 pendukung, sementara versi Bahasa Inggrisnya meraup 3.000 pendukung.

Radwan Ziade, aktivis hak asasi manusia yang kini hidup dalam pelarian mengatakan bahwa Hamza adalah simbol Revolusi Suriah. “Kematiannya adalah tanda kekejaman sadistis rezim Assad dan aparatnya,” kata dia. “Kekejaman, penyiksaan, adalah hal yang biasa di Suriah. Ini bukan hal baru atau aneh. Tapi yang membuat Hamza spesial, ia tewas mengenaskan di usia 13 tahun. Ia masih anak-anak.” Gejolak penggulingan Presiden Bashar al-Assad kini memasuki minggu ketujuh. Jurnalis asing dilarang keras masuk ke negara itu.

Comments are closed.