Inilah Ayat Pertama Bagi Calon Aktivis NII

Author - April 28, 2011

Inilah Ayat Pertama Bagi Calon Aktivis NIIBerita Terbaru, Berbicara seputar kejadian teror bom yang belakangan ini sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, Negara Islam Indonesia pun menjadi sorotan publik setelah terduga bahwa otak serangan berasal dari kelompok tersebut. Negara Islam Indonesia merupakan sebuah kelompok atau jaringan yang mengajarkan agama islam secara berbeda. Untuk masuk menjadi anggota NII pun, setiap kandidat harus menyerahkan sejumlah uang. Anehnya, meski diperas dan disuruh untuk melakukan penjambretan, perampokan, pembunuhan, bahkan aksi bom bunuh diri, namun tetap saja masih banyak orang yang mau terbujuk.

Sejumlah tokoh agama Islam mengecam keras aksi NII ini dan menyebutnya aliran sesat. Sejumlah mantan pentolan NII, seperti Al Chaidar menuturkan bahwa modus yang belakangan ini ramai dibicarakan bukanlah NII yang asli. Perjuangan yang asli tidak pernah mengunakan cara-cara seperti minta uang dan sebagainnya.

Bagaimana sesungguhnya bentuk NII itu tidak banyak yang tahu. Bagaimana pola rekrutmen dan bagaimana mereka menghidupi jaringan juga kesetiaan dari mereka yang direkrut juga tidak banyak orang yang tahu. Ken Setiawan, seorang mantan anggota senior NII mengisahkan bahwa proses pindah dari warga negara Indonesia menjadi warga NII tidak memakan waktu lama. Cuma sepekan.

“Yang lama itu proses rekrutmen. Kalau calon anggota sudah siap, tinggal melalui beberapa tahapan,” kata Ken Setiawan. Ken bergabung dengan NII tahun 2000, ketika dia datang pertama kali ke Jakarta. Saat itu, Ken hendak mengikuti turnamen bela diri pencak silat. Dia berangkat dari kampungnya di Kebumen, Jawa Tengah. Selama perjalanan di bus, dia satu bangku dengan seseorang yang baru dikenal.

Bus yang ditumpangi Ken tiba di Terminal Pulo Gadung tengah malam. Ken kesulitan menghubungi kantor sekretariat panitia turnamen pencak silat. Tiba-tiba, teman satu bangku di bus tadi mendekati dan menawari tempat singgah. Ken yang baru pertama kali menginjakan kaki di Jakarta akhirnya mengikuti tawaran pria baik hati itu. Dia diajak ke Kampung Melayu, Jakarta Timur. Di sana, Ken bertemu dengan sekitar 11 orang yang tinggal dalam satu kontrakan. Lokasinya berada di Kampung Melayu Kecil, pinggiran Kali Ciliwung.

Banyak pria dan wanita bermukim di sana. Mereka yang tinggal sangat rajin ibadah, salat, dan mengaji. Ken tidak curiga. Keesokan harinya, Ken dibawa ke Komplek Garuda, Kalibata, Jakarta Selatan. Ken mendapat banyak kenalan baru dari komunitas itu. Ken belum curiga, karena tidak ada satupun dari mereka yang berbicara tentang NII.

Ken kemudian dibawa lagi ke kawasan Volvo, belakang kantor Badan Intelijen Negara (BIN). Di sana, Ken dibawa ke sebuah rumah yang besar. Ken merasa nyaman dengan komunitas itu. “Karena mereka sangat mendukung bakat saya. Saya diperlakukan lebih dari seorang teman,” kata Ken. Kata-kata pertama yang mengantar ke pembicaraan NII adalah surat Az-Zariyat ayat 56. “Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku”. Tak lama setelah itu, Ken ditanya kesiapannya untuk membela dan menegakkan Negara Islam Indonesia.

Comments are closed.