Inilah Wajah Pelaku “Cuci Otak” di Malang

Author - April 20, 2011

Inilah Wajah Pelaku “Cuci Otak” di MalangBerita Terbaru, Sebanyak 15 mahasiswa UMM dan Unibraw Malang, Jawa Timur, menjadi korban cuci otak untuk tidak percaya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para korban yang didoktrin otaknya, wajib untuk percaya pada Negara Islam. “Dari hasil pengakuan para korban, baik korban yang tahun 2008 lalu dan korban yang direkrut pada 2011 ini, otaknya sudah didoktrin untuk tidak percaya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi harus percaya pada Negara Islam,” kata Nasrullah kepala humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Jawa Timur, Selasa (19/4/2011).

Mereka tidak menggunakan ‘Negara Islam’, melainkan ia mempunyai istilah sendiri dengan nama ‘Negara Karunia’. “Kalau menjadi warga NKRI itu katanya kafir. Bisa Islam dan langsung masuk surga kalau jadi warga Negara Islam,” ujarnya. Yang aneh menurut Nasrulah, diskusi dilakukan di mal, seperti di Malang Olympic Garden (MOG) dan MATOS. Penampilan para pelaku “cuci otak” itu pun tak seperti aktivis gerakan Islam radikal pada umumnya.

“Penampilan para pengajaknya tidak seperti wajah-wajah beraliran keras. Inilah yang hingga kini masih menjadi tanda tanya, apakah hanya penipuan dengan modus agama atau memang mengajak untuk anti-NKRI,” katanya. Menurut Nasrullah, dua versi itu masih terus dikaji oleh pihak UMM. “Tetapi yang santer dari pengakuan korban bukan hanya murni penipuan bermodus agama. Otak korban itu sudah dipengaruhi radikalisasi Islam,” katanya.

Sementara itu, menurut pengakuan M Hanif, salah satu korban yang tidak sampai dibaiat di Jakarta, yang menjadi bahasan dalam setiap diskusi yang sudah belangsung selama berkali-kali tersebut memang Negara Islam. “Kami dibuat tidak percaya kepada NKRI. Adam dan Fikri itu selalu menyampaikan karut-marutnya bangsa Indonesia. Agar keluar dari permasalahan karut marutnya bangsa ini, harus hijrah keluar dari NKRI dan pindah menjadi warga Negara Islam atau Negara Karunia,” ceritanya, Selasa.

Hanif mengaku, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa baru yang belum banyak tahu soal keagamaan. Kebanyakan korban merupakan mahasiswa baru dari Jurusan Teknik. “Awalnya saya sudah yakin terhadap Negara Islam itu karena ke depan ini akan datang pembaharu Islam yang akan mengubah NKRI menjadi Negara Islam,” urai mahasiswa yang masih berumur 19 tahun ini. Hanif juga mengatakan bahwa yang membuat dia tertarik mengikuti diskusi adalah pembeberan mengenai masalah bangsa yang sampai saat ini dinilai gagal. “Solusinya adalah Negara Islam, yang bisa mendamaikan negara,” katanya.

Comments are closed.