Jalan Panjang dan Berliku

Author - June 25, 2012

Jalan Panjang dan Berliku, Keberadaan liga profesional Indonesia merupakan elemen mendasar dari pembangunan persepakbolaan Indonesia. Dalam liga profesional itulah diasumsikan kita juga memiliki klub-klub yang juga profesional dan juga para pemain yang mengabdikan sebagian besar waktunya untuk terus mengasah kemampuan individu dan kerja sama timnya.

Jalan menuju liga profesional itu, harus diakui, masih panjang dan berliku. Penanggung jawab Liga Primer Indonesia, Sihar Sitorus, menjelaskan, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sudah memberikan tiga tahun masa transisi untuk mewujudkan liga profesional itu. Namun, masa transisi ini lewat tanpa arti. ”Kepengurusan PSSI yang baru sebenarnya sudah mewacanakan roadmap liga profesional,” ujarnya.

Sementara dalam peta jalan (roadmap) yang sudah dimiliki PT Liga Indonesia sebagai pengelola Liga Super Indonesia (ISL), misalnya, fase saat ini hingga 2015 barulah fase transformasi pertama.

”Yaitu fase transformasi dari era pengelolaan klub secara amatir menjadi pengelolaan profesional. Pada fase ini ditekankan pemahaman yang sama mengenai klub profesional itu apa, baik dari aspek hukum, infrastrukturnya, pengembangan fans-nya, pengembangan sumber-sumber daya manusianya, dan juga finansial,” kata Djoko Driyono, CEO PT Liga Indonesia.

Basis pengembangan liga haruslah digerakkan oleh klub-klub. ”Di Eropa juga, liga-liga yang besar digerakkan oleh klub,” tambah Djoko.

Dasar pemikirannya adalah klub tidak akan menjadi sebuah klub besar karena hanya memiliki uang yang banyak. Sebuah klub bisa menjadi besar kalau juga mengembangkan komunitas pendukungnya. Klub juga harus memiliki kemampuan mengelola finansial dan menyiapkan sumber daya pemain, pelatih, tenaga medis, dan pendukung lainnya. Klub juga harus mampu menyiapkan dan memelihara infrastrukturnya (stadion, mes pemain, dan lain-lain).

Fase transformasi kedua menurut peta jalan ISL, lanjut Djoko, adalah tahun 2016-2018. Pada fase ini klub-klub sudah menyelesaikan seluruh masalah hukumnya. Klub-klub juga menjadi entitas bisnis yang memiliki profil finansial memadai. Klub-klub sudah lebih rasional sehingga tidak hanya bisa menyeimbangkan pengeluaran dengan pendapatan, tetapi juga terus berinovasi untuk meningkatkan pendapatannya.

Baru selepas 2018, liga memasuki fase industri yang sebenarnya. Dalam fase ini, pertumbuhan klub dan perekonomian klub berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi negara. Para pelaku bisnis pun sudah melihat liga profesional itu bukan hanya sebuah aktivitas olahraga, melainkan juga aktivitas bisnis ataupun hiburan.

Sihar pun mengakui, struktur keuangan klub-klub di Indonesia masih timpang, di mana besarnya gaji pemain tidak sebanding dengan penerimaan, terlebih ketika larangan dana APBD bagi klub profesional dikeluarkan. Akibatnya, tunggakan gaji pemain beberapa tahun terakhir ini semakin marak.

Solusinya, Sihar menyampaikan alternatif mergernya klub-klub profesional yang tidak mampu secara aset dan finansial itu sehingga bisa memenuhi syarat-syarat legalitas, keuangan dan infrastruktur. Oleh karena itulah IPL untuk musim 2012/2013 akan diikuti oleh 16 klub profesional, sedangkan divisi utama diikuti 24 tim. ”Jumlah 16 di Liga Primer itu secara bertahap akan kami naikkan menjadi 18 sampai 20 dalam kurun waktu beberapa tahun,” ujarnya.

Djoko pun mengakui, di klub-klub peserta ISL, pemahaman mengenai liga profesional dan klub profesional ini spektrumnya masih besar. Ada klub yang memandang target ideal infrastruktur sebagai hal yang memberatkan, tetapi ada juga yang memahami bahwa itulah bagian dari masa depan klub.

Terkait langkah untuk menjadikan klub sebagai klub profesional, menurut Djoko, pengembangan sumber daya manusia klub, khususnya pembinaan talenta-talenta muda, menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Hal itu bisa digerakkan oleh dua kekuatan, yaitu regulasi yang memaksa mereka untuk peduli terhadap piramida pembinaan itu sebagaimana sudah diterapkan terhadap klub-klub anggota ISL.

Kedua, digerakkan oleh pemikiran rasional klub-klub bahwa profil pembiayaan terbesar di klub adalah membayar pemain, bukan hanya gaji pemainnya, melainkan juga kontrak transfernya.

”Jika klub mulai rasional terhadap itu, klub akan mulai lebih perhatian pada perekrutan dari dalam. Di klub-klub ISL sekarang ini 6 sampai 8 persen sudah diisi anak-anak jebolan dari U-21,” ujar Djoko.

Di ISL, selain kompetisi para pemain profesional, ke-18 klub anggota ISL juga berkompetisi di liga U-21. Liga U-21 itu diharapkan menjadi tim ”cadangan” atau tim kedua bagi klub-klub. Selain itu, pembinaan juga dilakukan di tingkat U-19 dan U-17.

Djoko berharap liga ISL U-19 sudah mulai bisa dijalankan pada tahun 2013. Sementara untuk U-17, klub-klub anggota ISL dipersilakan untuk berkompetisi di liga apa pun dan tidak ditangani oleh PT Liga Indonesia.

Jalan Panjang dan Berliku

Comments are closed.