Mari, Menikmati Tari Perang di Danau Sentani

Author - June 28, 2012

Mari, Menikmati Tari Perang di Danau Sentani, Penonton yang tadinya duduk di dalam keteduhan tenda, sontak berduyun-duyun maju ke arah panggung, tepat di belakang danau. Sengatan terik matahari tak menghalangi penasaran mereka.

Panasnya memang tak kenal ampun. Orang-orang bilang, Papua punya sembilan matahari. Bahkan, siang itu, Selasa (19/6/2012), matahari seakan ada sepuluh.

Hari itu, langit begitu biru tanpa awan putih mengganggu. Terpaan sinar matahari ke permukaan danau begitu menyilaukan. Ada beberapa pawang hujan dikerahkan khusus untuk hari itu.

Ya, ini adalah momen yang telah ditunggu-tunggu. Pembukaan Festival Danau Sentani V. Sebuah festival yang diselenggarakan secara tahunan sejak 2008.

Festival Danau Sentani (FDS) merupakan festival budaya berbasis kemasyarakatan yang menampilkan keragaman adat, kesenian, kerajinan, sampai kuliner masyarakat Papua, terutama penduduk asli Danau Sentani. Festival ini selalu berlangsung di tanggal 19 Juni selama hampir sepekan.

Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sebuah tarian perang menjadi adegan klimaks pembukaan festival tersebut. Dermaga kayu di Pantai Khalkote, tepi Danau Sentani, menjadi pusat perhatian mereka. Elu-elu perang membahana, busur panah dibusungkan, hentakan kaki memberi semangat.

Ratusan pria tampak mengenakan bawahan dari jerami atau disebut khombou. Mereka bersiap untuk bertempur. Sementara para kekasihnya menanti dengan setia berita kemenangan para pria-pria itu.

Tari Felabhe

Danau Sentani merupakan danau terluas kedua di Indonesia dengan beberapa pulau dan kampung yang menghuni pulau-pulau tersebut. Terdapat 24 kampung yang hidup harmonis dengan Danau Sentani. Namun, dahulu, para kampung ini tak selamanya harmonis. Ada perang antara kampung.

Tentu, itu hanya terjadi di masa lalu. Saat ini, gambaran sejarah perang antarkampung tersebut tergambar pada tari perang bernama Felabhe. Tarian ini menjadi puncak acara pembukaan FDS V.

Seorang pemimpin perang dengan tombak panjang meneriakan kidung-kidung pembangkit semangat. Dengan gerakan menari layaknya sedang kesurupan, ia seakan memanggil pasukan untuk maju berperang. Tak lama, munculah perahu-perahu berisikan para penari perang.

Berhias kepala dari bulu burung, bertelanjang dada, bawahan dari jerami, sementara busur dan anak panah telah siap di tangan. Serentak mereka turun dari perahu, kemudian mulai memenuhi area depan panggung.

Ratusan pria dengan gerakan serupa menari sambil mengarahkan anak panah. Rasanya, mereka ingin memanah para penonton. Seketika, muncul perasaan ngeri.

Namun, sekejap perasaan itu berubah menjadi rasa takjub yang menyihir. Badan pun mulai ikut bergerak, seirama dengan elu-elu yang mereka kumandangkan. Kaki pun ikut menghentak, mengikuti gerakan kaki para penari.

Beberapa turis asing terlihat tak segan ikut masuk ke tengah-tengah penari. Ya, mereka ikut menari. Dan, dengan berbaik hati, para penari meminjamkan busur dan anak-anak panahnya agar para turis bisa berlagak seperti mereka. Seru!

“Yo’i, seru! Ini ada 500 penari dari 24 kampung,” tutur Kepala Dinas Pariwisata Jayapura, Yotam Fonataba.

Yotam bilang, ini kali pertama Tari Felabhe ditampilkan di Festival Danau Sentani. Rencananya, tahun depan, tari perang ini pun akan kembali dipertontonkan. Bahkan, menurut Bupati Jayapura, Jansen Monim, Tari Felabhe tak ubahnya seperti Tari Kecak (Tari Cak) khas Bali. Kesamaannya, apalagi kalau bukan banyaknya penari yang “naik panggung.

Keduanya juga merupakan tarian dinamis, yang mampu membangkitkan semangat dengan hanya mengandalkan bunyi dari mulut tanpa tambahan instrumen. Jika Anda melewatkan Tari Felabhe tahun ini, maka tunggu tanggal mainnya kembali di Festival Danau Sentani VI.

Rencananya, kali keenam festival tersebut akan berlangsung di tanggal 19 Juni 2013. Agar mendapatkan momen-momen terbaik menonton tarian ini, Anda harus mengambil tempat terlebih dahulu di belakang panggung, tepat ke arah tengah danau.

Anda juga bisa masuk ke area dermaga untuk mendapatkan pemandangan para penari yang berdatangan dari pulau-pulau sekitar danau menggunakan perahu. Setelah itu, ambil tempat di area bangku penonton. Cari yang agak ke depan. Saat mereka mulai menari di depan penonton, bergabunglah dalam keriaan mereka, para penari itu.

Satu lagi. Jangan lupa minta teman untuk memotret aksi Anda menari Felabhe.

Kelar itu, para penari akan kembali ke danau dan naik perahu. Maka, segeralah Anda ikut ke arah danau. Para perempuan dengan hiasan perahu warna-warni telah menanti. Mereka menunggu kekasih-kekasih mereka yang telah “bertempur” untuk Sentani.

Anda bisa naik pesawat menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan, jika kedatangan Anda dari belahan Indonesia bagian barat. Dari Makassar, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Bandara Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Beberapa maskapai harus melakukan transit terlebih dahulu di Bandara Frans Kaiseipo, Kota Biak, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Waktu tempuh antara Makassar ke Biak sekitar 3 jam. Sementara dari Biak menuju Bandara Sentani sekitar satu jam.

Maskapai yang melayani rute Makassar (Bandara Sultan Hasanuddin) – Jayapura (Bandara Sentani) adalah Batavia Air, Garuda Indonesia, Lion Air, Merpati, Sriwijaya Air. Penerbangan rute tersebut tersedia setiap hari.

Harga tiket tergantung bulan musim liburan. Namun, biasanya harga tiket ada di kisaran mulai Rp 1.000.000. Bahkan, harganya bisa lebih murah untuk bulan-bulan sepi kunjungan.

Jarak dari Bandara Sentani menuju Danau Sentani sangat dekat. Anda hanya akan menempuhnya sekitar 10 menit dengan mobil. Anda bisa naik taksi yang terdapat di bandara ataupun menumpang ojek.

Mari, Menikmati Tari Perang di Danau Sentani

Comments are closed.