Melacak Jejak Negara Islam Indonesia (NII)

Author - April 27, 2011

Melacak Jejak Negara Islam Indonesia (NII)Berita Terbaru, Berbagai ajaran dari jaringan islam radikal di Indonesia kini bukanlah suatu permasalahan kecil lagi. Masyarakat pun mulai terbawa arus untuk mengikuti ajaran yang tergolong sesat. Saat ini, Indonesia tengah disibukkan dengan kasus terorisme yang dilakukan oleh sekelompok jihad. Salah satunya adalah Negara Islam Indonesia (NII), sebuah kelompok atau organisasi yang dianggap sesat dalam ajarannya terhadap islam. Mereka memiliki ajaran yang berbeda mengenai islam. Para pengikutnya pun terus berkembang. Dengan pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang prrofesional yang mampu mencuci otak korban sehingga mengikuti ajaran mereka.

Karena dianggap sesat, tempat mereka belajar pun selalu bersembunyi. Namun, pihak kepolisian baru-baru ini telah mencurigai tiga mesjid di Jombang, Jawa Timur yang diduga dijadikan sebagai tempat untuk cuci otak kepada lima pelajar yang belakangan ini tengah hilang dan pergi dari rumahnya. Ketiga masjid yaitu, masjid Babul Janah Desa Sengon Kecamatan Jombang Kota, masjid Darul Muttaqin Desa Kertorejo Kecamatan Ngoro, dan masjid An Nur Dusun Suko, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang.

“Tiga masjid itu kini mendapatkan pengawasan khusus dari aparat. Karena sering digunakan untuk aksi cuci otak bagi para pelajar,” kata Abdurrahman, Kepala Bidang Kesatuan Bangsa, Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpollinmas) Pemkab Jombang, Rabu (27/4/2011).

Abdurrahman menjelaskan, dari penelusuran yang ia lakukan, cuci otak itu dilakukan di tiga masjid tersebut secara bergantian. Untuk wilayah selatan, masjid Darul Muttaqin Ngoro, wilayah tengah masjid Babul Janah Jombang kota, dan wilayah utara masjid An Nur Tembelang. “Kalau di masjid yang satu terendus, maka mereka berpindah ke masjid satunya lagi,” ujarnya.

Dia kembali menegaskan, bahwa sudah ada lima pelajar Jombang yang menjadi korban cuci otak. Untungnya, sebelum ke lima pelajar tersebut dibawa lari dan dimintai sejumlah iuran, gerakan tersebut sudah tercium aparat. Lima pelajar itu masing-masing sekolah di SMA Negeri 2, SMK Negeri 3 dan SMK Negeri 1 Jombang.

Abdurrahman meyakini bahwa kelompok yang melakukan cuci otak di Jombang adalah jaringan NII. Hal itu terlihat dari doktrin yang di sampaikan kepada para pelajar tersebut. Misalnya, diharamkan menghormati bendera merah putih dan pancasila.

“Kita sudah sampaikan kepada Dinas Pendidikan Jombang agar mendampingi lima pelajar yang jadi korban cuci otak itu secara khusus. Minimal yang bersangkutan beserta orang tuanya dipanggil. Dengan demikian, gerakan itu tidak meluas,” pungkasnya.

Comments are closed.