Meninjau Kembali Saham CPO

Author - February 28, 2011

Meninjau Kembali Saham CPOBerita Terbaru, Janson Nasrial, analis dari AM Capital mengatakan, prospek saham perkebunan masih menarik. Hal ini terkait ekspektasi kenaikan harga tahun ini. Asosiasi kelapa sawit malaysaia memprediksikan harga sawit akan mencapai 3.300-3.600 RM, dari level saat ini di 3.557 RM, “Produksi perusahaan CPO juga akan lebih bagus karena efek Lanina akan segera berakhir,” ujarnya.

Sementara Nico Omer Jonckheere, Vice President Valbury Asia Securities mengatakan, kenaikan harga CPO akan menjadi pemicu signifikan kinerja usaha industri yang bergerak di sektor perkebunan ini. “Tak hanya keuangan, hal ini juga akan memicu peningkatan harga saham perusahaan dalam waktu menengah dan panjang,” katanya.

Pilihan utama sektor ini adalah Astra Argo Lestari (AALI), BW Plantation (BWPT), London Sumatra (LSIP). Daya tarik LSIP berasal dari neraca keuangan yang kuat, agresivitas ekspansi lahan dan diversifikasi ke komoditas karet yang sedang mencapai puncak harga, “Tahun ini LSIP masih bisa membukukan earning karena ekspansi produksi yang giat dilakukan,” paparnya.

Sementara AALI dipilih karena PE Ratio AALI adalah 17 kali. Nilai itu masih akan berkembang, setidaknya sampai satu tahun ke depan akan menembus level 27.500 rupiah per saham. “Oleh karena itu, investor bisa melakukan aksi beli,” ujarnya.

AALI membukukan pendapatan 2010 sebesar Rp8,843 miliar, naik 19% YoY. Kenaikan pendapatan terutama ditopang kenaikan penjualan CPO yang mencapai 1,1 juta ton, naik 5,2% dan kenaikan harga jual rata-rata yang mencapai Rp7,027/kg, atau naik 12,6%.

Sementara laba bersih naik 21.5% YoY mencapai Rp2,016 miliar. Laba kotor dan operasi meningkat masing-masing 16.4% dan 14.9%. Adapun jumlah kewajiban dan ekuitas turut naik 16,11% menjadi Rp8,79 triliun pada 2010. Nico menilai, hasil ini sesuai dengan ekspektasi para pengamat, “Sehingga dapat membawa dampak positif bagi pergerakan sahamnya,”ujarnya..

Senada dengan Samuel sekuritas yang menjagokan AALI. Hal ini terkait kinerja perseroan yang positif. Selama 2010, total produksi CPO naik 2,8% ke 1,1 juta ton, atau 3% lebih tinggi dari estimasinya. Namun, buruknya cuaca menyebabkan FFB yield turun menjadi 20,2 ton/ha dari sebelumnya 21,8 ton/ha, sementara ER CPO turun tipis menjadi 22,9% dari 23,1%, “Rekomendasi beli untuk saham ini,”ujarnya.

Samuel securities memperkirakan, harga CPO akan berada pada level favorable tahun ini, meskipun kini sedang mengalami koreksi. Asumsi harga rata-rata CPO 2011 adalah US$950/ton. Potensi terjadinya Elnino akan memperlambat produksi CPO, dengan target pertumbuhan tipis sebesar 4,5% tahun ini.

Emiten CPO lain pilihannya adalah London Sumatra (LSIP), yang kinerjanya tak kalah menarik.Pertumbuhan laba bersih 2010 tercatat 46,06% YoY menjadi Rp1.03 triliun, menyebabkan EPS naik 43.81% YoY menjadi Rp151/saham. Penjualan juga meningkat 12,28% YoY menjadi Rp3.59 triliun dipicu kenaikan harga komoditas, terutama karet dan produk sawit serta volume penjualan bibit sawit “SumBio” meskipun produksi menurun.

Comments are closed.