Mubarak Pilih Jerman Untuk Mengungsi

Author - February 10, 2011

Mubarak Pilih Jerman Untuk MengungsiBerita Terbaru, Sejumlah media melaporkan bahwa pada hari kemarin lebih dari sepuluh ribu demonstran telah membanjiri Midan Tahrir. Jumlah tersebut merupakan jumlah terbesar dalam dua pekan terakhir aksi demonstrasi untuk menuntutnya Presiden Husni Mubarak (82), untuk segera mundur. Aksi tersebut bermulai pada tanggal 25 Januari 2011 dan hingga kini pun belum mereda. Pasalnya, Mubarak tetap menolak untuk mundur dan menawarkan transisi kekuasaan secara damai.

“Tak ada yang namanya kudeta,” kata Wakil Presiden Umar Sulaiman. “Sebab, kudeta akan menimbulkan chaos.” Namun kelompok oposisi mengatakan dialog tak akan tercapai jika Mubarak tetap ngotot ingin berkuasa. “Tak akan ada perundingan tanpa disertai mundurnya Mubarak,” kata juru bicara Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi. Bilamana kericuhan di negerinya semakin sulit teratasi, kabarnya Mubarak sudah mempunyai rencana untuk mengungsi ke Jerman. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu media terkemuka di Jerman, Del Spiegel. Tahun lalu Mubarak baru saja ke Jerman. Ia menjalani operasi kantong empedu dan polip di klinik Universitas Heidelberg.

“Ia akan menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan di spa kesehatan termewah di Eropa,” demikian dilansir Der Spiegel. Maklum saja, menurut Globalpost, Mubarak merupakan orang paling kaya sedunia dengan harta US$ 70 miliar. Ia bahkan mengalahkan orang terkaya versi majalah Forbes, Carlos Slim Helu, pengusaha asal Meksiko dengan harta US$ 53,5 miliar.

Kekayaan Mubarak tersebar dalam bentuk simpanan di sejumlah bank di Swiss dan properti di New York, Los Angeles, serta London. “Supaya kekayaan mereka tak disita selama masa transisi,” ujar guru besar politik Universitas Princeton, Professor Amaney Jamal. “Begitulah tipikal diktator di Timur Tengah.”

Diduga Mubarak mulai mengumpulkan hartanya semenjak menjabat perwira tinggi di Angkatan Udara Mesir. Menurut majalah Time, militer di sana merupakan institusi yang paling makmur. Panglima Angkatan Bersenjata Mohamad Tantawi, misalnya, selain menjabat Menteri Pertahanan, juga merupakan Menteri Produksi Militer.

Jabatan itu membuat Jenderal Tantawi memiliki posisi sebagai CEO sejumlah perusahaan milik angkatan bersenjata. Bujet militer Mesir disebut-sebut mencapai US$ 5 miliar. Namun sejumlah hasil penelitian, seperti disebutkan Time, menaksir jumlah sesungguhnya mencapai empat hingga lima kali lipat.

Comments are closed.