Murray Menangi Hati Penggemar di Inggris Raya

Author - July 10, 2012

Murray Menangi Hati Penggemar di Inggris Raya, Petenis nomor empat dunia, Andy Murray, memang kalah dan gagal menjadi petenis Inggris Raya pertama yang meraih gelar juara Wimbledon sejak 1936. Meskipun demikian, tulis media setempat, Senin (9/7/2012), dia akhirnya berhasil memenangi hati penggemar Tanah Airnya.

Kekalahannya setelah tampil dengan baik melawan Roger Federer dan betapa emosionalnya keterangan pers setelah pertandingan memperlihatkan sisi lain yang selama ini tak terlihat dari petenis kelahiran Glasgow, Skotlandia itu. Ia bahkan mampu meyakinkan media setempat bahwa ia tak akan membutuhkan waktu lama untuk kembali tampil di puncak kejuaraan Grand Slam.

Raut kesedihan mungkin menggelayut di seantero Inggris ketika Murray tak mampu menahan air mata setelah pertandingan, sembari melihat ke kekasihnya Kim Sears, serta Kate Middleton, yang juga berusaha tak terjebak emosi.

“Jangan Menangis Wahai Para Perempuan, Ia Membuat Kita Bangga” tulis harian Daily Mail di halaman depan, yang merefleksikan hubungan dan kedekatan masyarakat dengan petenis kebanggaan mereka.

Namun, Daily Mail tak hanya menunjukkan dukungannya kepada Murray. Mereka juga mencantumkan kritik dan tuduhan di halaman tengah terhadap Andy, yang terlihat masam dan tanpa emosi selama pertandingan berlangsung.

Murray juga kerap menjadi bahan olok-olokan saat ia berkelakar bahwa tim sepak bola favoritnya adalah setiap tim yang bermain di Inggris. Ia juga harus siap dengan olok-olokan yang mengatakan hanya akan diakui sebagai orang Inggris bila ia memenangi sesuatu, dan disebut orang Skotlandia ketika kalah.

Beberapa jurnalis dari berbagai media di Inggris Raya menunjukkan apresiasi mereka atas apa yang sudah dilakukan Murray dalam pertandingan final Wimbledon.

Kolumnis harian Times, Matthew Syed, mengatakan bahwa respons dan sikap positif yang ditunjukkan Murray seusai kekalahannya menggoyahkan label tradisional Inggris, yaitu pemberani yang kalah menjadi “pemenang yang menanti giliran”.

Permainannya pada saat ini sangat mengesankan. Ia memulai dengan cepat dan hanya kewalahan ketika bertemu dengan lawan-lawan level genius di lapangan.

Sementara itu, Martin Samuel dari Daily Mail menulis bahwa Murray tidak lain adalah korban takdir, yang mengharuskan ia lahir dalam satu generasi dengan salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah.

“Dari hatiku yang paling dalam, aku tak bisa menyalahkan seseorang hanya karena ia berada di bawah bayang-bayang petenis terbaik yang pernah memegang raket,” tulis Simon Barnes dari Times.

Kevin Mitchell dari harian Guardian bahkan menyebut Murray sebagai seorang juara tanpa mahkota. Mengenai reputasi Murray di mata publik, Mitchell mengatakan bahwa amat disayangkan, dukungan terhadapnya tak pernah menjadi sesuatu yang universal.

Mereka yang berharap Murray gagal justru menciptakan kerugian bagi diri sendiri. Suatu saat bukan tidak mungkin mereka justru berdiri dan menghibur Murray.

Harian Telegraph menyebutkan, Murray saat ini menghadapi hubungan yang sulit dengan publik pencinta olahraga secara luas karena sikapnya dulu kurang ramah.

Meski demikian, siapa pun yang menyaksikan luapan emosi Murray hari ini akan menyadari arti penting Grand Slam bagi dia, dan penghargaannya terhadap pendukung yang selalu setia selama.

Murray Menangi Hati Penggemar di Inggris Raya

Comments are closed.