Petani Malang Tantang TNI AL

Petani Malang Tantang TNI ALBerita Terbaru, Kata peribahasa, semut pun kan marah bila terlalu diinjak-injak. Peribahasa ini dipraktekan oleh sekelompok petani di Desa Purboyo, Kecamatan Bantu, Kabupaten Malang karena merasa kesal dan lelah dengan intimidasi oknum anggota Marinir, TNI AL. Mereka mengaku siap carok untuk mempertahankan lahan mata pencahariannya.

Marsidi, yang rambutnya sudah memutih dengan kulit keriput, lantang menceritakan dan berkeluh kesah tentang arogannya aparat Keamanan dari TNI AL dengan masyarakat Purboyo.

“Rumah dan gubuk kami diancam rusak. Tanah lahan garapan kami sudah diserobot. Sejumlah tanaman kebun dan kayu ditebangi oleh Marinir. Kalau sudah demikian terus yang terjadi, kami siap carok. Siap mati karena kami punya hak untuk mendapatkan tanah garapan yang sah,” teriak Marsidi di hadapan Komisi A DPRD Jawa Timur, Jumat (10/12/2010).

Menurut Marsidi dengan logat Maduranya yang sangat kental, sudah sangat lama masyarakat Desa Purboyo, Bantur menjadi korban intimidasi oknum militer.
Selain diancam rumah warga akan digilas kendaraan tempur jenis tank, setiap pergerakan warga pun tak luput dari pengawasan bak musuh yang siap diserang oleh mereka.

“Mendirikan gubuk saja kami dicurigai. Padahal, fungsi gubuk hanya untuk berteduh dari sengatan matahari. Apapun sepak terjang warga disana, selalu diawas-awasi oleh Marinir,” ungkap Marsidi.

Purboyo sendiri adalah daerah berbukit yang banyak ladang-ladang tebu luas disana. Akan tetapi, ribuan hektar tanah disana menjadi lahan atau Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AL dari Kesatuan Elitnya, Marinir.

Puslatpur Purboyo adalah kawah candradimukannya kesatuan baret ungu itu. Personel Marinir dimanapun berada kini, pasti pernah ditempa secara mental dan kemiliteran disana. Ironisnya, lahan Puslatpur kerap bersinggungan dengan lahan garapan milik warga.

Antara warga yang mayoritas penghasilannya dari bertani itu, merasa diintimidasi karena sejumlah lahan sah milik mereka, kerap diserobot. Tak hanya diintimidasi, warga dilarang membangun rumah permanen yang dekat dengan areal Puslatpur.

Jika membangkang, warga pun diancam dengan akan merobohkan rumah-rumah warga dengan kendaraan tempur macam tank dan sejenisnya. Tragis memang. Namun, selama itu, tidak ada titik temu kapan perdamaian yang menguntungkan kedua belah pihak bisa terlaksana.

“Mereka seperti hantu. Setiap pergerakan kami selalu diawasi. Diintimidasi. Kalau sudah demikian, kami siap mempertahankan tanah kami. Meski harus carok dan pertumpahan darah sekalipun,” tegas Marsidi.

Comments are closed.