Presiden Mesir vs Presiden Yaman Senasib

Author - February 4, 2011

Presiden Mesir vs Presiden Yaman SenasibBerita Terbaru, Saat ini dunia tengah bergejolak dengan berita mengenai aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di dua wilayah yaitu Mesir dan Yaman. Para demonstran yang jumlahnya mencapai ratusan ribu massa itu, menuntut agar pemimpin mereka segera turun. Para demonstran di Mesir melakukan unjuk rasa agar Presiden Mesir, Hosni Mubarak segera mundur dari tahtanya setelah menjabat sebagai Presiden selama 30 tahun. Sementara itu, hal yang sama dilakukan oleh para massa yang melakukan aksi unjuk rasa di Yaman. Mereka menuntut agar Presiden Yaman, Ali Abdullah untuk segera mundur dari jabatannya sebagai Presiden setelah selama 32 tahun memerintah.

Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh keduanya, mendapatkan reaksi dari berbagai kalangan dunia termasuk Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Meski begitu, ada perbedaan demonstrasi yang dilakukan oleh kedua wilayah tersebut. Kondisi atau aksi demosntrasi di Mesir kian hari semakin mengkhawatirkan dengan timbulnya kericuhan di seeluruh penjuru Mesir. Mereka saling menyerang kepada para massa yang mendukung Presiden Hosni Mubarak, termasuk polisi.

Berbeda dengan aksi demonstrasi di Yaman, mereka melakukan aksi unjuk rasa dengan tertib dan aman. Mereka menuntut untuk dilakukannya reformasi politik dengan langkah pertama yaitu mundurnya Ali Abdullah atau yang dipanggil dengan Saleh sebagai Presiden. Saleh yang telah menjabat sebagai Presiden sejak tahun 1978 itu, dinilai rakyat telah melakukan tindak korupsi. Selain itu, pemerintahan Saleh pun dianggap tidak baik dalam mengatur pemerintahan dan rakyatnya.

Jika di Mesir, Mubarak menanggapi tuntutan para rakyatnya dengan menyatakan bahwa ia tidak akan mundur sebelum masa jabatannya sebagai Presiden, bahkan ia lebih memilih mati jika harus mundur karena aksi tuntutan para rakyatnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Saleh, Presiden Yaman yang menyatakan tidak akan mundur. Keduanya saling berjanji tidak akan mencalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilu mendatang.

“Kami melihat pidato presiden kemarin sebagai sesuatu yang positif, namun demonstrasi kami ini menuntut adanya pemerintahan yang jujur, bukan hanya konsesi,” ujar pemimpin partai Islah, Muhammad Abdul Malik Mutawakkil. Massa demonstran juga mengatakan bahwa demonstrasi mereka kali ini akan berlangsung dengan damai. “Kami berdemo dengan damai dan tidak akan membiarkan adanya provokator yang merusak aksi kami. Namun jika pemerintah memaksakan kehendaknya, bagaimana mereka bisa memaksa kami untuk tetap demo dengan damai,” ujar salah satu demonstran, Ibrahim Mohammed Ali Azan.

Demonstran anti pemerintahan yang terdiri dari para pemuda, pekerja dan wanita yang mengenakan jubah hitam rencananya akan berkumpul di lapangan Tahrir, Sanaa, nama lapangan yang sama seperti di Kairo, tempat berkumpulnya massa demonstran anti Mubarak. Namun, di tempat tersebut, telah lebih dulu berkumpul massa pendukung Saleh, sehingga mereka terpaksa mencari tempat lain.

Polisi memisahkan antara masa pro dan anti Saleh dalam dua tempat berbeda, demonstrasi berlangsung aman dan damai. Massa pro-Saleh yang terdiri dari para pegawai pemerintahan dan para pengangguran mendapatkan jatah logistik langsung dari pemerintah untuk berdemo. Salah satu demonstran, pengangguran bernama Iyad Nasser, mengaku bahwa dia mendapatkan bayaran untuk ikut dalam rombongan. “Dengan jiwa dan darah kami akan berkoban untukmu, wahai Ali,” teriak para demonstran pro Saleh. “Ali Abdullah Saleh adalah singa di semua Arab, bukan pengecut seperti Mubarak atau Ben Ali. Dia adalah pahlawan kami, dan kami akan melakukan apapun untuk melindungi dia,” ujar salah satu demonstran pro Saleh, Abdul Rahman Ghanam.

Comments are closed.