Senja di Damaskus

Author - July 20, 2012

Senja di Damaskus, Tidak salah kalau dikatakan bahwa serangan bom terhadap Markas Besar Biro Keamanan Nasional Suriah di Damaskus, Rabu (18/7/2012) lalu, adalah pukulan telak bagi Presiden Bashar al-Assad. Sungguh peristiwa itu merupakan tragedi nasional Suriah.

Markas Besar Biro Keamanan Nasional adalah tempat berkumpul petinggi militer pendukung rezim Assad. Tempat yang menjadi markas besar dewan keamanan nasional ini terletak di kawasan Rawda Square, Damaskus, kawasan yang dijaga sangat ketat, terlebih lagi setelah kelompok bersenjata menyerang Damaskus. Di kawasan ini berdiri pula Kedubes AS dan Kantor Presiden Assad. Tak jauh dari markas besar itu berdiri Kedubes Yunani, Italia, Lebanon, dan Turki.

Yang lebih menyesakkan Assad adalah korban ledakan bom bukan hanya Menteri Pertahanan Jenderal Dawoud Rajha, melainkan juga saudara iparnya, Jenderal Assef Shawkat, deputi menteri pertahanan sekaligus mantan kepala intelijen militer. Shawkat menikah dengan satu-satunya saudara perempuan Assad, Bushra.

Bagi Assad, kehilangan Shawkat sungguh suatu kehilangan besar. Shawkat adalah salah satu tokoh paling berkuasa di jajaran militer. Sementara Rajha yang Kristen, meski dia menteri pertahanan, dipandang sekadar menduduki jabatan seremonial. Yang lebih berkuasa adalah Shawkat.

Shawkat, seperti orang-orang lain di lingkungan dalam rezim Assad, berlatar belakang Alawi, Syiah.

Jabatan-jabatan penting di jajaran militer kebanyakan dipegang saudara atau kerabat dekat Assad. Adik Assad, Maher al-Assad, adalah Komandan Divisi Lapis Baja Keempat Angkatan Bersenjata Suriah.

Peledakan bom itu memunculkan interpretasi telah terjadi perpecahan di tubuh angkatan bersenjata; mulai terjadi pembusukan di tubuh rezim Assad. Sebelumnya sudah tersiar kabar membelotnya para petinggi militer dan prajurit, terutama yang berasal dari kelompok Sunni.

Apakah serangan terhadap Markas Besar Biro Keamanan Nasional menjadi awal runtuhnya rezim Assad? Yang pasti, serangan yang menelan korban kelas kakap itu adalah kemenangan besar kelompok oposisi pada hari keempat ofensif mereka ke Damaskus, ibu kota Suriah.

Kita mencatat para pemimpin di negara-negara yang disapu angin revolusi—Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya—yang berusaha mempertahankan kekuasaan mereka dengan kekuatan dan menghalalkan segala cara, akhirnya tumbang. Ibarat pepatah kuno honores mutant mores, saat manusia mulai berkuasa, berubah pula tingkah lakunya. Semua tindakannya untuk kepentingan diri, keluarga, kelompok, dan orang-orangnya. Lupa bahwa mereka berkuasa karena rakyat.

Sebut saja Ben Ali tak mampu mempertahankan kekuasaannya di Tunisia. Hosni Mubarak didongkel dari kursi kekuasaannya dan bahkan dijatuhi hukuman seumur hidup. Abdullah Saleh terpaksa meninggalkan Yaman. Moammar Khadafy bahkan lebih tragis lagi: ia tidak hanya dijatuhkan dari mimbar kekuasaan, tetapi juga ditembak mati rakyatnya.

Sudah begitu banyak nyawa melayang sejak pergolakan muncul di Suriah, 17 bulan lalu. Berbagai usaha meredam amuk Assad dan membujuk dia agar luluh hatinya melihat rakyatnya menderita telah dilakukan. PBB dan Liga Arab, negara-negara besar turun tangan, tetapi belum juga berhasil.

Rusia dan China andil membuat penguasa Suriah berkeras dan teguh pada sikapnya menumpas kelompok oposisi. Namun, sampai kapan kekuasaan itu akan dapat dipertahankan jika bertumpu di atas genangan darah rakyatnya?

Revolusi adalah banjir yang tak dapat dihentikan, tetapi bisa dikendalikan. Namun, sejauh ini penguasa di Damaskus tak mampu mengendalikan revolusi rakyat. Cepat atau lambat akan ada titik akhir. Ibarat hari, kini Suriah mendekati senja dan sebentar lagi akan terbit matahari baru, yang memberikan kehidupan baru pula.

Pada hari keempat serangan oposisi ke Damaskus, Markas Besar Biro Keamanan Nasional diledakkan. Saat itulah senja mulai datang di Damaskus..

Senja di Damaskus

Comments are closed.