Seorang Warga Malaysia Menjadi Buronan FBI

Author - May 7, 2011

Seorang Warga Malaysia Menjadi Buronan FBIBerita Terbaru, Setelah pemimpin jaringan al-Qaeda, Osama bin Laden dinyatakan tewas dalam penggerebekan US Navy Seal di Pakistan Minggu 1 Mei 2011, dan dicoret dari daftar buron, kini buron yang dicari FBI tinggal 32 orang.

Salah satu dari daftar buronan FBI itu adalah warga negara Malaysia bernama Zulkifli Abd Khir. Ia diduga menjadi salah satu otak aksi teroris di tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Seperti dimuat situs FBI, kepala buron ini dihargai US$5 juta. Ia adalah pemimpin Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM) dan anggota komando sentral Jemaah Islamiyah (JI). Zulkifli adalah anak didik pakar bom JI, Dr Azahari Hussin yang tewas dalam penyerbuan di Batu, Malang, Jawa Timur 9 November 2005 silam.

Tak hanya FBI, pemerintah Malaysia juga menawarkan sayembara RM50.000 untuk menangkap Zulkifli. Namun, ia keburu kabur ke Indonesia dan diduga terkait dengan Bom Bali I tahun 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Pelarian Zulkifli berlanjut ke Filipina. Di sana ia diduga tergabung dengan Abu Sayyaf dan the Moro Islamic Liberation Front (MILF) — ikut melakukan penyerangan dan pemboman di sejumlah fasilias milik AS dan basis militer AS di Filipina. Dia juga masuk dalah daftar buron Kepolisian Filipina setelah dua petugas polisi tewas saat mencoba mendekat ke lokasi persembunyiannya.

Sejak 2003 Zulkifli yang berasal dari Muar diduga bersembunyi di Mindanao. Otaknya terbilang sangat encer. Ayah empat anak ini lancar berbahasa Inggris, Tagalog, dan Arab. Hebatnya, ia adalah adalah insinyur yang pernah belajar di Amerika Serikat dengan beasiswa dari pemerintah.

Setelah menyelesaikan gelar pada tahun 1989, ia menjadi seorang pejuang mujahidin. Perannya, menjinakkan bom dan ranjau darat Soviet. Setelah itu dia bekerja sebagai insinyur listrik di Malaysia.

Dua anggota keluarga lainnya menjalani hukuman penjara di Amerika Serikat dan di Indonesia untuk kegiatan teroris.

Kakaknya, Rahmat Abd Khir, diduga memberikan uang tunai pada Zulkifli dan JI untuk Bom Bali. Rahmat, yang dua tahun lebih tua dari Zulkifli, belajar teknik komputer di Amerika Serikat sebelum memperoleh kewarganegaraan di sana. Dia dilacak oleh petugas federal AS dan ditangkap di kantornya di Sunnyvale, California pada 2007.

Tak hanya itu, kakak ipar Zulkifli, Taufik Abdul Halim, mendekam di penjara Indonesia atas tuduhan terlibat kasus Bom Atrium di Jakarta tahun 2002. (New Straits times)

Comments are closed.