Suara Rakyat Tentang Pembangunan Gedung Baru DPR

Author - May 16, 2011

Suara Rakyat Tentang Pembangunan Gedung Baru DPRBerita Terbaru, Tindakan untuk membangun gedung baru DPR, wajar saja bila mendapatkan banyak reaksi dari masyarakatnya. Sebab, banyak pihak yang menilai jika pembangunan gedung baru DPR bukanlah suatu hal yang penting dibandingkan dengan masih banyaknya jalan yang rusak, rumah sakit, sekolah rusak, listrik terbatas, jaminan sosial yang belum selesai dengan alasan tidak ada anggaran, sementara untuk pembangunan gedung baru DPR, pemerintah bersedia untuk memberikan anggarannya. Dalam rangka menyuarakan penolakan pembangunan gedung baru DPR, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan dukungan sepenuhnya.

Politikus PDIP, Maruarar Sirait menegaskan bahwa partainya akan menolak rencana pembangunan gedung baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menurutnya, pilihan tersebut sudah sesuai dengan tugas sebagai wakil rakyat yang harus bekerja sesuai dengan kemauan rakyat. “Saya sudah mutar-mutar ke Jayapura, Sumatera, Bali, Jawa, Kalimantan dan belum pernah menemukan satu pun orang Indonesia yang setuju akan pembangunan gedung baru,” ujar pria yang akrab disapa Ara itu. Ia mengumpulkan data dengan berbagai metode, baik melalui kunjungan langsung, melalui telepon, Blackberry Messenger, SMS, e-mail, dan lain-lain.

Ara mengemukakan, terkait dengan tawaran Menteri Pekerjaan Umum, Joko Kirmanto yang menurunkan anggaran pembangunan gedung dari Rp1,1 triliun menjadi Rp777 miliar dengan fasilitas gedung yang semula 36 menjadi 26 lantai, tidak bisa dijadikan alasan untuk melanjutkan pembangunan. “Bukan persoalan harga, mau turun berapa, saya rasa kalau rakyat tidak setuju, apalagi ini adalah uang negara, kami akan menolak,” katanya.

Meskipun begitu, Ara menghargai dinamika yang ada di DPR, karena dia memahami DPR adalah lembaga politik dan wadah berdemokrasi. Namun begitu, untuk memperkuat persepsi partainya tentang penolakan tersebut, dia mengusulkan agar DPR atau lembaga-lembaga survei yang ada untuk melakukan penelitian kepada masyarakat. Hal ini untuk mengetahui secara pasti, apakah mereka menolak atau setuju.

“Kami, PDI Perjuangan, bisa lakukan survei dalam waktu dua minggu seperti saat kenaikan TDL. Jangan survei hanya soal pemilihan kepala daerah, Pemilihan Presiden, Pemilu, saja dong, tapi juga untuk kepentingan publik,” katanya. Ara menyatakan bila para anggota dewan sukses membatalkan rencana pembangunan gedung baru, maka itu adalah kado terindah untuk negeri ini. Karena, hal tersebut sangat tepat dengan momentum peringatan hari lahir Pancasila pada 1 Juni 2011 mendatang. “Apalagi, Pak SBY, Ibu Mega dan Pak Habibie akan bersama-sama dalam momen tersebut,” katanya.

“Kalau mau membuat DPR menjadi lembaga yang dipercaya rakyat dan bangsa ini, kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan kemauan rakyat,” katanya lagi. Ara menyebut, sebagai penyelenggara negeri ini, baik anggota DPR maupun pemerintah tidak boleh terus mengumbar janji-janji manis kepada rakyatnya. Semua program dan kampanyenya dalam pemilu yang lalu harus dibuktikan dalam kerja yang nyata. Dan salah satu saat untuk menunjukkan hal itu adalah sekarang ini.

Dia pun ingin agar pembahasan terkait hal itu berlangsung terbuka. “Yang jelas, jangan sampai keputusan ada di rapat konsultasi, harus di rapat paripurna. Kalau sampai rapat konsultasi saya akan protes. Karena pengambilan keputusan ada di rapat paripurna. Dan saya minta, persoalan gedung baru ini terbuka, jangan ada intrik-intrik, sehingga bisa bias, agar semua tahu, siapa yang menolak dan siapa yang mendukung,” katanya.

Comments are closed.