Tinta Hitam “Black September”

Author - July 21, 2012

Tinta Hitam “Black September”, Olimpiade Muenchen 1972 menjadi kenangan pahit bagi banyak atlet, Pemerintah Jerman, dan Komite Olimpiade Internasional. Itikad baik Pemerintah Jerman yang lebih melonggarkan keamanan demi menghapus citra militeristik negara itu sebagai dampak ulah penguasa Jerman pada Perang Dunia II dimanfaatkan sekelompok orang bersenjata untuk mengganggu olimpiade tersebut.

Kelengahan pengamanan terhadap atlet itu menorehkan tinta hitam ”Pembantaian Muenchen” atau dikenal juga dengan tragedi kelompok ”Black September”.

Sekelompok anggota garis keras Palestina tanpa ”terbaca sebelumnya” menyerbu ke asrama atlet Israel di Muenchen dan menembak mati 11 atlet Israel yang akan bertanding di olimpiade.

Asrama atlet Indonesia di Muenchen yang lokasinya berdekatan dengan asrama atlet Israel, menyebabkan 10 atlet Indonesia berlaga di Olimpiade Muenchen pun terkena dampak langsung peristiwa itu.

Enam di antaranya adalah Wiem Gommies (26), cabang tinju; Carolina Rieuwpassa (23), atletik; Ferry Moniaga (22), tinju; Mirnawati Hardjolukito (18), loncat indah; Charlie Depthios (32), angkat besi; dan Tjoeij Lin Alienilin, panahan.

Indonesia tidak meraih medali di olimpiade tersebut. Namun, Olimpiade 1972 memberikan pelajaran berharga mengenai keamanan atlet dan pelatih wajib diutamakan.

Peristiwa ”Black September” itu juga menjadi peringatan penting mengenai bagaimana ajang akbar olahraga tidak bisa dipisahkan dari aspek politik. Namun, politik juga jangan sampai mengendalikan olahraga.

Tinta Hitam "Black September"

Comments are closed.