Tumpek Landep

Author - October 9, 2010

Tumpek Landep. Berita terbaru, Umat Hindu di Bali merayakan Hari Tumpek Landep, persembahan suci yang khusus ditujukan untuk semua jenis benda yang berbahan baku besi, perak, tembaga dan jenis logam lainnya, Sabtu (9/10). Kegiatan ritual menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan dipersembahkan untuk berbagai jenis alat produksi dan aset, termasuk keris dan senjata pusaka.

Aset yang mendapat persembahan khusus pada hari istimewa umat Hindu di Pulau Dewata itu, antara lain mesin, kendaraan, sepeda motor, dan alat teknologi, termasuk perangkat komputer dan televisi. Upacara dilakukan di rumah tangga masing-masing, dengan skala besar atau kecil sesuai kemampuan dari keluarga bersangkutan.

Upacara itu bermakna untuk memohon keselamatan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata. Selain itu, juga merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih, hingga tercipta benda-benda yang mampu mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Program Studi Pemandu wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar Doktor Drs I Ketut Sumadi M.Par menjelaskan, Tumpek Landep juga merupakan “pujawali” Betara Siwa yang berfungsi melebur dan memralina (memusnahkan) untuk kembali ke asalnya.

Salah satu hari yang cukup diistimewakan umat Hindu itu berlangsung setiap 210 hari sekali. Masyarakat yang berprofesi sebagai petani mempersembahkan kurban suci itu ditujukan terhadap alat-alat pertanian berupa canggul, sabit, atau traktor. Semua peralatan yang terbuat dari besi dan tembaga, termasuk mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya, pada Hari Tumpek Landep mendapat persembahkan sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut ceniga, sampian gangtung, dan tamiang.

Teknologi canggih, menurut Ketut Sumadi, hendaknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali yaitu Tri Hita Karana, hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh sebab itu seluruh peralatan yang digunakan umat manusia dalam mengolah isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau perak harus tetap terjaga kesuciannya. Dengan demikian, alat-alat itu selamanya akan dapat digunakan dengan baik, tanpa merusak alam lingkungan.

Masyarakat yang berprofesi sebagai petani misalnya, akan merawat dan menjaga alat-alat pertaniannya dengan baik. “Sementara masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat berbagai jenis peralatan dari bahan baku besi, baja, emas, perak (perajin) akan memelihara dan menjaga peralatannya, agar tidak disalahgunakan untuk membuat benda-benda yang membahayakan kehidupan di alam semesta ini,” tutur Ketut Sumadi.

Comments are closed.