Warga Bali mulai ‘menyepi’

Warga Bali mulai ‘menyepi’Berita Terbaru, Made Suastini (36) tahun, beranjak dari tempat tidurnya tepat pukul 07.00 WITA, untuk melakukan persiapan menyambut tahun baru Saka 1933.

Wanita warga Bali ini pun menuju dapur untuk membuat sarapan, tapi menu pagi ini bukan untuknya maupun keluarga. Sarapan yang terdiri dari buah, jajan, nasi, ikan, dan kopi ini ditujukan untuk arwah leluhur yang pulang ke rumah saat Nyepi sesuai kepercayaan warga Bali.

“Karena Nyepi bikin Sagi atau Punjung, seperti sesaji berukuran kecil, diberikan untuk leluhur jika datang ke sini,” jelas ibu dari empat anak ini.

Sesaji Nyepi yang ia persembahkan berbeda dari biasanya, karena saat Catur Brata Penyepian tidak diperkenankan menyalakan api, maka sarapan untuk leluhur ini tanpa dilengkapi dupa. Namun, hal ini tak mengurangi penghormatannya terhadap arwah leluhur yang telah lama meninggal.

Usai menyiapkan sarapan, wanita yang sehari-harinya berjualan pakaian di pasar seni Kuta ini tidak banyak melakukan aktivitas dan memilih bersembahyang untuk mengisi waktu saat Catur Brata Penyepian.

Aktivitas serupa juga dilakukan hampir seluruh warga Bali pada saat hari raya Nyepi, Sabtu (05/03/2011) ini. Umat Hindu di Bali melakukan Catur Brata Penyepian yakni tidak bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak bersenang-senang (Amati Lelanguan).

Mulai pukul 06.00 WITA pagi tadi seluruh sudut Pulau Dewata tampak seperti kota mati. Tidak ada kendaraan lalu lalang, tak ada kantor atau pertokoan yang buka, bahkan tidak ada siaran televisi dan radio selama 24 jam. Aktivitas warga Bali akan kembali normal pukul 06.00 WITA besok pagi.

Comments are closed.